DEEP LEARNING : TANTANGAN DAN HARAPAN MENJAGA KESEHATAN MENTAL PELAJAR

DEEP LEARNING : TANTANGAN DAN HARAPAN MENJAGA KESEHATAN MENTAL PELAJAR
Oleh : Eka Puspitasari, S.Pd
Pada akhir tahun 2024, Indonesia memulai sebuah revolusi baru dalam bidang pendidikan. Kurikulum merdeka yang semula telah diimplementasikan harus kembali beradaptasi dengan adanya kajian baru mengenai sebuah pendekatan yang disebut sebagai pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning). Dilatar belakangi dengan perubahan pada masa depan yang sulit diprediksi, permasalahan mutu pendidikan, kemampuan berpikir kritis dan persiapan menuju indonesia emas 2045, maka lahirlah pendekatan pembelajaran mendalam.
Pada hakikatnya setiap kurikulum, memiliki latar belakang dan tujuan untuk senantiasa mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Salah satunya didalam implementasi kurikulum merdeka (IKM) dan pendekatan Deep Learning yakni sebelum pembelajaran, guru dalam satuan pendidikan dapat melakukan asesmen diagnostik, baik secara kognitif maupun non kognitif untuk mengetahui latar belakang dan kemampuan awal yang telah dimiliki siswa.
Berkaitan dengan asesmen tersebut, terutama asesmen diagnostik non kognitif guru dan wali kelas dapat mengetahui karakter siswa secara psikologis. Guru juga dapat mulai memahami kondisi siswa serta mendeteksi sedini mungkin masalah yang dialami siswa agar ketika belajar sudah berada pada kondisi yang wellbeing baik secara jasmani maupun rohani. Saat ini siswa yang duduk dibangku sekolah didominasi oleh gen Z dan gen alpha, yang sangat dikenal dengan kemahirannya dalam penggunaan teknologi. Gadget bukan lagi hal yang asing, sehingga penggunaan gadget menjadi sebuah kebiasaan yang ada dalam masyarakat kita. Tetapi, gadget yang merupakan salah satu produk kecanggihan teknologi ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisinya memberikan dampak positif namun di sisi lain memberikan dampak negatif. Salah satu dampak negatif penggunaan gadget adalah gangguan kesehatan mental.
Melansir data dari hasil penelitian yang dilakukan di Hotel Grand Melia Jakarta, gangguan mental yang paling banyak diderita oleh remaja adalah gangguan kecemasan yaitu sebesar 3,7%, kemudian gangguan depresi mayor sebesar 1,0%, diikuti oleh gangguan perilaku 0,9%, serta gangguan pasca trauma sebesar 0,5% (Gloria ,2022). Selain itu, penggunaan gadget yang berlebihan dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan dan depresi siswa (Kamaruddin, dkk 2023).
Oleh karenanya pembelajaran Deep learning hadir sebagai sebuah harapan baru untuk dapat berjalan beriringan dalam menghadapi teknologi yang telah menjadi keseharian para siswa. dalam pengimplementasian pendekatan pembelajaran mendalam tidak terlepas dari pembelajaran abad ke-21 yang berprinsip pada peningkatan kemampuan berpikir kritis serta kreatifitas dengan memanfaatkan teknologi digital. Penggunaan teknologi ini yang paling mudah diakses adalah dengan gadget. Misalnya pembelajaran mendalam dengan konsep pembelajaran menyenangkan (Joyful) dapat diciptakan melalui pembelajaran dengan media dan aplikasi seperti Quiziz, wordwall, canva dll. Sekolah juga bisa memanfaatkan media infokus atau Smart televisi untuk presentasi tugas kelompok siswa didepan kelas.
Namun demikian, penyuluhan tentang pentingnya bijak menggunakan gadget pada kalangan pelajar tetap sangat diperlukan. Agar penggunaan gadget tidak disalahgunakan seperti untuk bermain games online tanpa kenal waktu, menonton video ataupun berita negatif yang tidak layak diakses oleh pelajar sesuai dengan usianya. Sehingga guru sebagai pilar pendidikan, tentunya memiliki tugas tambahan yakni memberikan arahan dan bimbingan bagaimana penggunaan gadget harus dilakukan dengan bijak dan sesuai kebutuhan.
Selain itu, gangguan mental dan depresi juga lebih banyak dialami oleh perempuan daripada laki-laki. Studi terbaru telah mengidentifikasi masalah kesehatan mental khususnya depresi sebagai penyebab terbesar dari beban penyakit dikalangan anak muda (Amini, dkk 2020 ; WHO,2017). Kalangan anak muda yang tidak lain masih didominasi oleh pelajar adalah mereka yang duduk dibangku sekolah. Oleh karenanya dalam prinsip pembelajaran mendalam, selain penggunaan teknologi digital, yang berkaitan dengan kesehatan mental siswa adalah menanamkan kesadaran penuh dengan melibatkan pikiran dan tubuh untuk fokus belajar dan bertumbuh. Sehingga sebelum memulai pembelajaran dapat dimulai dengan teknik mindfulness yang bertujuan agar siswa dapat belajar dengan penuh perhatian dan kesadaran. Misalnya adalah teknik pernapasan inhale-exhale, atau teknik identifikasi emosi. Hal ini menjadi sebuah implementasi sederhana mengenai prinsip pembelajaran berkesadaran (mindful).
Selain karena gadget, gangguan mental juga dapat diakibatkan berbagai faktor misalnya karena faktor lingkungan dan pola asuh orang tua (Rachmawati, dkk. 2023). Pola asuh orang tua yang otoriter seperti banyak aturan yang ketat dan permisif seperti anak bertindak tanpa aturan memberikan dampak pada masalah mental emosional pada remaja. Pola asuh orang tua dapat dideteksi sejak awal masuk ke sekolah melalui asesmen diagnostik non kognitif. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting sehingga siswa dapat lebih mudah untuk dipantau dan diberikan penanganan yang sesuai. Keluarga yang merupakan rumah pertama haruslah menjadi tempat ternyaman bagi siswa untuk mencurahkan segala perasaan dan masalah yang dialami sehingga siswa tidak memendam masalahnya sendiri dan berakibat pada depresi (Heni, 2024). Sehingga sinergitas antara orang tua dan sekolah menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk melahirkan pendidikan yang komprehensif. Melalui sinergitas yang baik antara kedua belah pihak lahirlah sebuah pendidikan yang memiliki kebermaknaan (Mmeaningful) bagi siswa dan keluarga.
Oleh karenanya, pendekatan pembelajaran mendalam menjadi peluang baru guna menciptakan generasi-genarasi emas Indonesia yang kompeten dan berkarakter. Pendekatan Deep Learning dapat memberikan ruang dan keleluasaan bagi satuan pendidikan mengembangkan program-program sekolah baik intra maupun ekstrakurikuler sehingga para siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya. Siswa tidak terlalu banyak belajar materi yang sulit di kelas, lebih fokus kepada kompetensi esensial yang dicapai dan siswa lebih sedikit mengerjakan tugas yang bersifat individual. Pada akhirnya melalui keterampilan proses secara individu dan kelompok diharapkan siswa memiliki wadah aktualisasi diri sehingga dapat mengobati sekaligus mengalihkan permasalahan yang terjadi akibat gangguan mental ringan yang dialaminya.
DAFTAR PUSTAKA
Amini,dkk. 2020.Factors Related To Adolescent Depression Levels In YPH Plus
Bogor High School Bogor 2019 . Jurnal Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Volume 3 No.4. https://ejournal.uika-bogor.ac.id
Gloria. 2022. Hasil survei I-NAMHS: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Memiliki
Masalah Kesehatan Mental https://ugm.ac.id/id
Heni, Sutiyah. 2024. Peran Keluarga Dalam Menjaga Kesehatan Mental Pada Remaja Usia 15-18 Tahun.
Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia. Vol. 3 No. 1
Kamaruddin, dkk. 2023. Dampak Penggunaan Gadget Pada Kesehatan Mental Dan Motivasi Belajar
Siswa Di Sekolah. Journal on Education Volume 6 No.01,pp. 307-316 E-ISSN: 2654-5497, P-
ISSN: 2655-1365
Rachmawati, dkk. 2023. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Pada Remaja. Jurnal
Surya Medika. file:///C:/Users/user/Downloads/4522-Article%20Text-17301-2-10-20230111.pdf . Universitas Muhamadiyah Palangkaraya
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Penggunaan Internet dan Media Sosial Sehat dan Pengawasan Penggunaan Gawai
- Tugas Pembuatan Video profil sekolah asal siswa
- KONTRADIKSI GENERASI MUDA YANG TAK LAGI BERJIWA MUDA
- Urgensi Kesehatan Mental Pelajar di Kabupaten Bogor
- Cerpen (Bunga Tidur)
Kembali ke Atas

