Cerpen (Imajinasi)

Imajinasi
Oleh : Andita
Apa imajinasi itu nyata? Apakah sebuah imajinasi bisa menjadi kenyataan? Mungkin itu yang dipikirkan orang-orang setelah mendengar kata ‘imajinasi’.
Namaku Canaria, panggil saja Ria. Rambutku berwarna hitam legam lurus panjang sebahu dengan mata yang berwarna coklat tua. Penampilanku memang terlihat biasa saja seperti kebanyakan orang, namun aku memiliki sesuatu hal aneh, yaitu melihat apa yang dikatakan orang sebagai imajinasi, itulah yang ‘dia’ katakan.
Malam itu terlihat sangat indah sampai aku tak bisa melupakannya. Banyak bintang yang menghiasi langit malam dan bulan yang menyinari pada malam yang kelam itu. Semua keindahan itu menghilang sekejap setelah aku mendengar bahwa ibuku telah meninggal. Malam yang indah itu berubah menjadi malam menyesakkan.
Setelah malam itu, dunia berubah menjadi lebih suram dengan warnanya yang hilang menjadi kelabu. Ibuku, orang yang paling dekat bagiku telah tiada. Di balik semua kejadian itu tiba-tiba aku memiliki penglihatan aneh. Aku melihat yang namanya imajinasi.
Saat pertama kali aku melihatnya, aku tak mengira itu imajinasi. Semua itu hanya terlihat seperti gambar di kepala seseorang, seperti pantai dan sebuah kamar. Awalnya, aku mengira itu hanya halusinasiku saja karena terjadi setelah kematiannya.
Hari hari pun berlalu dan penglihatanku semakin memburuk. Setiap orang yang aku lihat akan terlihat imajinasinya. Ada yang berimajinasi untuk membunuh seluruh keluarganya maupun bunuh diri. Aku menjadi tau perasaan mereka karena aku melihat imajinasinya dan semua itu mempengaruhi pikiranku.
Malam itu langit sangat gelap hanya terlihat lampu lalu lintas dan cahaya dari toko-toko bahkan bulan dan bintang pun tidak menampakkan kilaunya. Hujan rintik yang membuat tubuhku kedinginan, namun semua tenggelam karena keputusasaan yang kurasakan.
“Aku ingin mati saja,” gumamku kala malam yang dingin itu. Di saat itu juga aku bertemu dengan dia di depan sebuah zebracross. Dia menyodorkan wajahnya ke wajahku. Pertama kali setelah beberapa waktu yang lama, aku tak melihat imajinasi pada seseorang. Dia berkata “Kau... bisa melihatnya ya?”
Aku terkejut sampai sepatah kata pun tak bisa keluar dari mulutku. Orang asing yang tiba-tiba datang kepadaku dan menanyakan hal yang tak terduga. Seorang pria mungkin umurnya 20 tahunan, rambut berwarna hitam ke birutuaan mirip warna langit malam itu, dengan perawakannya yang sangat tinggi. Anehnya, dia memakai kacamata hitam di saat malam yang gelap.
Saat kuperhatikan lagi dia seperti orang aneh yang hanya asal berbicara, jadi aku diamkan saja. Tiba-tiba dia berbicara lagi sambil menunjuk kepada seseorang yang berada di sebrang zebracross “Kau lihat itu kan, disitu ada payung. Kau melihatnya kan?”
Saat mendengarkan, segera aku melihat ke tempat yang ditunjuk. Dan benar, terlihat ada payung, “Mungkin orang itu lupa bawa payungnya,” ucapku dan dia secara bersamaan.
Aku pun mengalah lalu mengajaknya berbicara “Kenapa kau bisa tahu?” Dia menjawab “Aku sama sepertimu. Kenapa kita tak mencari tempat untuk berbincang tentang hal ini lebih lanjut?”. Karena rasa penasaran, aku pun mengikutinya.
Setelah tiba di sebuah cafe, dia memperkenalkan dirinya. Namanya Rigel, namanya diambil dari nama bintang yang paling terang di rasi orion. Dia tahu aku bisa melihat imajinasi karena dia melihat imajinasiku.
Dia bilang karena suatu kejadian aku bisa melihat imajinasi. Namun, itu tak sehebat punyanya yang membuat dia menggunakan kacamata hitam di malam hari. Meski begitu, dia masih bisa melihat imajinasi. Namun, kenapa aku tak bisa melihat imajinasinya? “Karena cara mendapatkannya berbeda, aku sudah melihatnya sejak aku lahir mataku pun berbeda dari orang biasa,” balasnya menjawab pertanyaan dalam kepalaku.
“Sedangkan kau baru bisa melihat imajinasi sekarang ini kan?” mendengar itu aku pun menceritakan apa yang terjadi. “Mungkin kau bisa melihat imajinasi karena permohonanmu sendiri,” katanya setelah mendengar ceritaku. “Aku tak pernah memohon hal seperti ini,” sangkalku terhadap ucapannya.
“Mungkin kau mengharapkannya secara tidak langsung, terserah kau mau menganggapnya itu anugerah maupun kutukan,” dia mengucapkannya seolah-olah itu adalah hal sepele.
Setelah Rigel mendengarkan semua ceritaku dan menjelaskan semua yang ia ketahui, ia menganggap urusannya selesai lalu berpamitan untuk pergi. Dari penjelasannya, aku tetap tidak mengerti apa maksudnya.
Seminggu berlalu, aku tetap tidak bisa menganggap ini sebagai anugerah, aku lebih menganggapnya sebagai kutukan.
Setelah kejadian itu, aku pun tak pernah melihatnya lagi. Namun, aku masih ingat semua perkataannya, hal aneh yang dikatakannya.
‘Melihat imajinasi, memang hal seperti itu benar-benar ada?’ pikirku karena memikirkan perkataanya pada malam itu. Meskipun waktu banyak berlalu, tidak banyak hal yang berubah kecuali aku tau apa yang kulihat sekarang.
Entah kenapa sejak aku bertemu dengannya penglihatanku menjadi lebih berwarna dari sebelumnya. Setelah kematian ibuku semua warna terlihat pudar, tetapi saat aku bertemu dengannya perlahan penglihatanku kembali berwarna. Jika suatu saat aku menemuinya lagi aku akan menanyakannya tentang hal ini.
“Akhir-akhir ini sering hujan ya,” gumamku saat melihat hujan dari dalam sebuah toko. “Kan sekarang lagi musim hujan” ucap seseorang. Mendengar itu aku pun menoleh ke arah suara itu.
Saat aku melihat, seorang lelaki yang mungkin seumuran denganku yang duduk di bangku SMA. “Karena hujan aku jadi mampir dulu” ucapnya kepadaku. Orang ini aneh, aku tak bisa melihat imajinasinya.
“Apa kau bisa melihat ‘imajinasi’ juga?!” dengan reflek aku menanyakannya karena orang ini mengingatkanku kepada Rigel.
“Apa maksudmu, melihat imajinasi? Apa itu seperti melihat pikiran seseorang?” toko itupun ramai karena teriakan ku tadi, mungkin orang orang di toko ini mengira aku orang aneh sekarang.
Karena orang-orang melihatku aku pun menggenggam tangannya dan keluar dari toko itu. Meskipun begitu, dia mau saja mengikutiku yang tiba-tiba meneriakinya.
Situasi saat ini masih hujan, kami berhenti ke toko lain untuk meneduh dari hujan. Saat aku perhatikan lagi, dia memiliki rambut berwarna coklat kemerahan dan mata hitam seperti pada umumnya.
“Ah maaf, kamu jadinya kehujanan,” kataku merasa bersalah. “Tidak kok.. lagi pula aku juga tertarik dengan apa yang kau bicarakan,” ujarnya sambil mengibas bajunya yang sedikit basah. “Sebenarnya kau mengingatkan aku pada seseorang tapi sepertinya aku salah sangka,” ucapku.
“Orang yang mirip sepertiku?” Jawabnya dengan penasaran. “Tidak, hanya saja kalian punya satu kesamaan, sama-sama tidak punya imajinasi” jelasku kepadanya. “Memang imajinasi yang kamu lihat seperti apa?” mendengar pertanyaan itu, aku pun menjelaskan semua hal yang terjadi pada malam itu.
“Jadi kau bertemu seorang pria tinggi yang memakai kacamata hitam dan tiba-tiba bilang bahwa kau bisa melihat imajinasi?” Aku pun menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku. Ia bertanya padaku dengan nada kebingungan untuk memastikan bahwa orang yang kutemui hanya orang aneh saja. Tentu saja aku juga setuju dengannya karena orang yang namanya ‘Rigel’ itu sangat aneh.
“Bukannya kau harusnya mengabaikan semua perkataannya...?” ucapnya dalam kebingungan. Aku menjelaskan bahwa aku tak bisa mengabaikan perkataan Rigel meskipun terdengar aneh, namun terdapat fakta bahwa Rigel dapat melihat imajinasi. Aku menambahkan bahwa aku ingin bertanya pada Rigel, tetapi tidak sempat karena dia ada urusan dan menghilang secara mendadak
"Tetapi yang membuatku bingung, kenapa aku tak bisa melihat imajinasi punyamu, padahal kau bukan orang yang bisa melihat imajinasi" omongku kepadanya karena penasaran.
"Mungkin.... itu karena aku tak mengharapkan apa-apa lagi di dunia ini," ucapnya sehabis menghela nafas. Dia menceritakan, orang tuanya tidak mengharapkan apa pun dari kelahirannya yang membuatnya tidak mengharapkan apa pun dari orang lain.
"Maupun aku mati atau hidup aku pun tidak peduli". Mendengar hal itu aku pun langsung merasa bahwa ada yang salah dengan orang ini. Aku pun merasa bahwa masalah yang dia hadapi lebih besar dari yang kuhadapi
"Tapi meskipun begitu harusnya kau punya satu keinginan kan?" Jawabku kepada pernyataannya. Dia pun terdiam setelah mendengar perkataanku. Dengan itu aku menggenggam tangannya dan mengajaknya berkeliling kota dengan harapan agar dia bisa menenangkan dirinya. Dengan raut yang kebingungan, ia tetap ikut denganku.
Suasana kota sangat indah, suara rintik hujan yang menenangkan, langit malam yang dihiasi bintang, dan jalanan yang berwarna-warni karena lampu dari pertokoan dan kendaraan di sekitar lalu lintas. Meskipun ini hal sederhana, aku selalu senang dengan suasana ini yang membuatku lupa tentang segala hal yang membebaniku. Aku pun menoleh ke arahnya, dan aku melihatnya tersenyum. Senyumannya seperti senyuman seorang anak kecil yang baru pertama kali main hujan-hujanan. Kami pun bersenang senang dan menikmati hujan malam ini.
Hujan pun berhenti, hanya ada sisa tetesan air hujan dari atap di atas toko-toko. Meskipun kami sudah memakai payung tetapi tetap saja kami kebasahan karena bermain main tadi.
Dia pun berkata “Tadi itu berbahaya, tetapi itu juga sangat menyenangkan. Aku ingin melakukannya lagi.” Aku juga setuju dengan perkataannya namun karena hujan sudah berhenti mungkin aku bisa melakukannya lain hari.
Diapun tersenyum kepadaku. Dan aku pun akhirnya melihat ‘imajinasinya’. Itu adalah sebuah hujan. “Mungkin sekarang permohonan terbesarku adalah melakukannya lagi denganmu,” ucapnya sambil tersenyum kepadaku.
Entah kenapa aku merasa lega karena hal ini. ‘Mungkin kau bisa melihat imajinasi karena permohonan mu sendiri’ sekarang aku mengerti apa maksud dari perkataan itu.
Mungkin aku mendapatkan penglihatan ini karena aku tak ingin membiarkan orang-orang seperti ibuku. Sampai nafas terakhir pun ibu tak bilang permohonan maupun penyakitnya. Ibu selalu memendam semuanya sendirian, dan aku baru tau semua hal itu setelah dia meninggal.
Aku ingin bisa melihat permohonan ibu agar aku masih bisa menolongnya waktu itu. Tanpa kusadari permohonan itu pun terkabuli dan aku bisa melihat yang namanya imajinasi.
“Tentu saja, kita akan melakukan ini setiap hujan datang” jawabku kepadanya. “Oh iya, namaku Kevin namamu siapa?” akhirnya dia pun memberitahu namanya. Aku memberi tau namaku dan meminta bertukar nomor handphone.
Sudah banyak waktu berlalu sejak pertama kali bertemu dengan Rigel. Rasanya aku ingin bertemu dengannya lagi dan bilang apa jawabanku terhadap pertanyaannya.
“Hai Ria, kau masih ingat aku kan?” suara yang tidak asing menyapaku. Aku pun menoleh kepalaku ke suara itu dan ternyata orang itu adalah Rigel. "Kau kangen aku gak?" ucapnya dengan nada suara yang sok akrab. Tentu saja aku masih ingat, kapan lagi aku bisa melihat pria yang sangat tinggi dan memakai kacamata hitam bahkan di waktu malam.
“benar sih, tapi kau mau tau tidak apa yang aku temukan? Aku menemukan cara menghilangkan penglihatanmu terhadap imajinasi loh” Nigel menjawab pertanyaan apa yang dia sendiri tanyakan.
Dia pun bertanya kepadaku apakah penglihatanku terhadap imajinasi ingin di hilangkan atau tidak dengan nada suara yang menjengkelkan. Tentu saja aku menjawab tidak. Mendengar hal itu Nigel pun bertanya alasanku menolaknya.
“Hey Nigel kau ingat ucapanmu waktu itu kau bilang, mungkin kau mengharapkannya secara tidak langsung, terserah kau mau menganggapnya itu anugrah maupun kutukan. Memang awalnya aku anggap ini sebagau kutukan. Namun aku baru sadar kalau ini semua adalah permonanku semata".
Mendengar hal itu Nigel pun tersenyum kepadaku seolah olah dia sudah tau dari awal bahwa aku akan mengucapkan itu suatu hari nanti. “Orang yang sedang putus asa itu biasanya keras kepala, dia tak akan mendengar apapun apa yang orang lain bicarakan kecuali kalau dia sudah menyadarinya sendiri,” ucapnya yang menjawab apa yang sedang kupikirkan
Aku tak bisa menyangkalnya karena apa yang dikatakannya itu benar. Semua hal telah kujelaskan, dia pun memberi nomor handphonenya jika suatu saat aku ingin menghubunginya. “Hey nigel, kau itu sebenarnya apa?” dari awal aku bertemu dengannya aku selalu ingin mempertanyakan ini padanya.
Nigel tersenyum dan bilang bahwa dia bisa melihat hal aneh lainnya selain imajinasi. Meskipun seperti tak bisa dipercaya, aku tetap saja percaya karena dia selalu mengatakan hal yang benar.
Dengan itu dia pun pergi dan aku pun sendirian. Angin sepoi sepoi, dan sinar matahari terik yang menyilaukan mataku. Suasana yang sangat berbeda dari yang biasa dulu aku rasakan. Sekarang hidupku sudah jauh lebih baik karena aku bisa menerima penglihatan ini.
Halo! Salam kenal semuanya nama saya Andita Meisya sering dipanggil meisya atau pun dita. Saya anak kedua dari dua bersaudara, saya mempunyai seorang kakak perempuan yang suka membaca buku apalagi novel. Oleh karena itu saya pun juga suka membaca dan menulis cerita saya sendiri. Hobi saya menggambar, membaca, dan bermain alat musik. Saya lahir di jakarta dan tinggal perumahan bukit asri blok D5 no. 2 RT 04/09 di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Saya lahir pada tanggal 29 mei 2008. Disini saya coba membuat cerita fantasi karena saya suka membaca buku dengan tema fantasi.
Sampai sini saja dulu perkenalannya dan terimakasih karena sudah membaca cerita ini sampai habis ^u^.
uploaded by humas vhego
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Penggunaan Internet dan Media Sosial Sehat dan Pengawasan Penggunaan Gawai
- DEEP LEARNING : TANTANGAN DAN HARAPAN MENJAGA KESEHATAN MENTAL PELAJAR
- Tugas Pembuatan Video profil sekolah asal siswa
- KONTRADIKSI GENERASI MUDA YANG TAK LAGI BERJIWA MUDA
- Urgensi Kesehatan Mental Pelajar di Kabupaten Bogor
Kembali ke Atas

